Perkembangan padel di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin sulit dianggap sebagai sekadar tren olahraga. Jumlah lapangan bertambah, komunitas berkembang, turnamen internasional mulai rutin hadir, dan pemain Indonesia mulai mendapatkan pengalaman di kompetisi FIP.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi hanya tentang seberapa cepat padel berkembang di Indonesia, tetapi apakah Indonesia memiliki peluang untuk menjadi salah satu kekuatan penting padel di Asia?
Jawabannya masih membutuhkan waktu untuk dibuktikan. Namun, sejumlah perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Indonesia sudah memiliki beberapa modal penting untuk menuju ke arah tersebut.
Indonesia Memiliki Basis Pemain yang Terus Berkembang
Salah satu modal utama sebuah negara dalam membangun olahraga adalah jumlah pemain dan fasilitas yang tersedia.
Pada 2026, FIP melaporkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 2.500 lapangan padel dan sekitar 600.000 pemain amatir. Angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan padel di Indonesia tidak hanya terjadi di kalangan pemain profesional, tetapi juga pada level komunitas.
Perkembangan ini menjadi penting karena ekosistem olahraga profesional biasanya membutuhkan basis pemain yang besar. Semakin banyak orang bermain, semakin besar pula kemungkinan munculnya pemain kompetitif, pelatih, klub, turnamen, hingga sponsor.
Dengan kata lain, pertumbuhan komunitas dapat menjadi fondasi bagi perkembangan prestasi.
Indonesia Mulai Memiliki Prestasi di Level Internasional
Perkembangan pemain Indonesia juga mulai terlihat di kompetisi internasional.
Salah satu momen penting terjadi pada Mei 2026 ketika Novela Putria bersama Sandra Bellver memenangkan FIP Bronze Yogyakarta. Gelar tersebut tercatat sebagai gelar CUPRA FIP Tour pertama bagi pemain Indonesia.
Perjalanan Novela juga menunjukkan bahwa pemain Indonesia mulai lebih aktif mengikuti kompetisi di luar negeri. Profil FIP-nya mencatat partisipasi di berbagai turnamen pada 2026, termasuk di Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, China, Jepang, hingga Eropa.
Pengalaman semacam ini penting karena perkembangan pemain tidak hanya ditentukan oleh latihan di dalam negeri. Bermain menghadapi pasangan dari berbagai negara dapat memberikan pengalaman menghadapi gaya permainan, strategi, dan tingkat persaingan yang berbeda.
Indonesia Mulai Mendapat Tempat dalam Kalender Kompetisi Asia
Modal berikutnya adalah kesempatan menjadi tuan rumah kompetisi.
Sejak 2025, Indonesia masuk dalam kalender CUPRA FIP Tour. Turnamen FIP Bronze pertama di Jakarta kemudian dilanjutkan dengan penyelenggaraan kompetisi di Bali. Pada 2026, Indonesia kembali menjadi lokasi sejumlah turnamen FIP, termasuk di Yogyakarta, Jakarta, Banten, dan berbagai kompetisi junior.
Hal ini memberikan keuntungan bukan hanya bagi penyelenggara, tetapi juga pemain lokal. Mereka mendapatkan kesempatan bertanding di depan publik sendiri sekaligus menghadapi pemain internasional tanpa harus selalu melakukan perjalanan ke luar negeri.
Lebih jauh lagi, Indonesia mulai mendapatkan kepercayaan untuk menjadi tuan rumah kompetisi tingkat kontinental.
Pada 7–14 November 2026, Jakarta dijadwalkan menjadi tuan rumah FIP Junior Asia Padel Cup, kompetisi yang mempertemukan talenta U14, U16, dan U18 dari berbagai negara Asia.
Persaingan Padel Asia Juga Semakin Besar
Namun, peluang menjadi kekuatan baru di Asia tidak berarti Indonesia berada tanpa pesaing.
Padel Asia sendiri sedang berkembang pesat. FIP mencatat bahwa pada 2025 terdapat sekitar 2,2 juta pemain amatir, 4.600 lapangan, dan 1.700 klub di lebih dari 30 negara Asia. Jumlah pemain dan lapangan tersebut tumbuh sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Negara-negara seperti Jepang, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Thailand, dan negara Asia lainnya juga terus mengembangkan ekosistem padel mereka.
Bahkan pada September 2026, padel resmi melakukan debut sebagai cabang perebutan medali di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Ini menjadi momentum penting karena kompetisi tersebut mempertemukan talenta dari berbagai negara Asia dalam satu panggung kontinental.
Artinya, Indonesia bukan hanya harus bertumbuh secara internal. Perkembangan negara-negara lain juga akan menentukan seberapa jauh posisi Indonesia dalam ekosistem padel Asia.
Pembinaan Junior Bisa Menjadi Kunci
Jika Indonesia ingin membangun kekuatan jangka panjang, perhatian tidak bisa hanya diberikan kepada pemain dewasa.
Salah satu perkembangan menarik terjadi pada FIP Promises Bali 2026. Turnamen tersebut mencatat 138 pasangan, menjadikannya turnamen junior FIP dengan jumlah peserta terbanyak yang pernah tercatat di Asia. Delapan kategori usia U12, U14, U16, dan U18 untuk putra dan putri dipertandingkan, dengan peserta dari Indonesia dan sejumlah negara seperti Italia, Prancis, Inggris, Jerman, Kazakhstan, Mesir, Malaysia, dan Belanda.
Ini menunjukkan bahwa Indonesia mulai memiliki lingkungan yang memungkinkan pemain muda mendapatkan pengalaman kompetitif sejak dini.
Jika pembinaan tersebut dilakukan secara konsisten, jalurnya bisa menjadi semakin jelas:
pemain junior → kompetisi nasional → FIP Junior → FIP Tour → kompetisi internasional yang lebih tinggi.
Apa yang Masih Harus Dibangun?
Pertumbuhan jumlah lapangan dan pemain belum otomatis menghasilkan prestasi internasional.
Indonesia masih membutuhkan sistem pembinaan atlet yang berkelanjutan, semakin banyak pelatih berkualitas, kompetisi nasional yang konsisten, dukungan sponsor, serta kesempatan pemain untuk mengikuti turnamen internasional secara rutin.
Selain itu, perkembangan olahraga profesional membutuhkan ekosistem yang saling terhubung. Klub tidak hanya berfungsi sebagai tempat bermain, tetapi juga sebagai tempat pembinaan. Turnamen bukan hanya menjadi acara kompetisi, tetapi menjadi sarana memperoleh pengalaman dan ranking. Sementara pemain junior membutuhkan jalur yang jelas untuk berkembang ke level profesional.
Dengan demikian, tantangan Indonesia ke depan bukan lagi sekadar menambah jumlah lapangan, tetapi mengubah pertumbuhan tersebut menjadi kualitas kompetitif.
Jadi, Apakah Indonesia Bisa Menjadi Kekuatan Baru Padel Asia?
Indonesia saat ini memiliki beberapa fondasi penting: basis pemain yang besar, pertumbuhan lapangan dan klub, pengalaman menjadi tuan rumah turnamen internasional, pemain yang mulai mencatat hasil di FIP Tour, serta perkembangan kompetisi junior.
Indonesia juga sudah menunjukkan hasil yang menjanjikan di level regional. Pada FIP Asia Padel Cup 2025, tim putri Indonesia berhasil meraih medali perunggu.
Namun, menyebut Indonesia sudah menjadi salah satu kekuatan utama Asia tentu masih terlalu dini. Padel Asia sendiri sedang berkembang dengan cepat, sehingga standar persaingannya juga terus meningkat.
Yang lebih tepat adalah melihat Indonesia sebagai salah satu negara dengan perkembangan yang menarik untuk diperhatikan.
Jika pertumbuhan komunitas dapat diikuti dengan pembinaan atlet, kompetisi berkualitas, dan pengalaman internasional yang konsisten, maka dalam beberapa tahun ke depan Indonesia berpotensi memiliki peran yang semakin besar dalam peta padel Asia.
Pada akhirnya, kekuatan sebuah negara dalam padel tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak lapangan yang dimiliki, tetapi juga oleh seberapa banyak pemain berkualitas yang berhasil lahir dari lapangan tersebut.









