Perkembangan padel di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mulai memasuki tahap yang lebih serius. Jumlah klub dan lapangan bertambah, turnamen internasional mulai digelar di berbagai kota, dan semakin banyak pemain lokal yang berani bersaing di kompetisi yang memiliki sistem ranking internasional.
Perkembangan ini kemudian memunculkan pertanyaan menarik: apakah Indonesia memiliki peluang untuk melahirkan pemain padel kelas dunia?
Jawabannya tidak bisa hanya dilihat dari jumlah lapangan atau banyaknya pemain. Menjadi pemain kelas dunia membutuhkan pembinaan jangka panjang, pengalaman kompetitif, kualitas pelatih, serta kesempatan menghadapi pemain terbaik dari berbagai negara.
Namun, beberapa perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Indonesia mulai memiliki fondasi yang diperlukan.
Basis Pemain Indonesia Semakin Besar
Salah satu modal terbesar adalah jumlah orang yang mulai bermain padel.
Dalam laporan FIP yang dipublikasikan pada 2026, Indonesia disebut memiliki sekitar 600.000 pemain amatir dan lebih dari 2.500 lapangan. Angka tersebut menunjukkan bahwa basis pemain di Indonesia sudah cukup besar untuk menjadi fondasi perkembangan atlet kompetitif.
Jumlah pemain yang besar berarti semakin banyak peluang untuk menemukan individu yang memiliki kemampuan, ketertarikan, dan potensi untuk berkembang menjadi atlet profesional.
Namun, dari pemain amatir menuju pemain kelas dunia masih terdapat proses yang panjang. Diperlukan sistem pembinaan yang mampu mengidentifikasi pemain potensial sejak usia muda dan memberikan mereka jalur perkembangan yang jelas.
Generasi Muda Mulai Mendapatkan Panggung Internasional
Salah satu perkembangan paling penting justru terjadi pada kategori junior.
Pada Agustus 2026, FIP Promises Bali mencatat 138 pasangan peserta, menjadi jumlah peserta terbanyak dalam sebuah turnamen FIP Promises di kawasan Asia. Turnamen tersebut mencakup kategori U12, U14, U16, dan U18 untuk putra maupun putri.
Yang menarik, pemain muda dari berbagai negara seperti Italia, Prancis, Belanda, Inggris, Jerman, Kazakhstan, Mesir, dan Malaysia ikut berkompetisi di Bali. Artinya, pemain Indonesia memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengalaman menghadapi gaya bermain dari negara lain sejak usia muda.
Ini merupakan bagian penting dalam pembentukan atlet. Semakin sering pemain muda menghadapi lawan dengan level berbeda, semakin banyak pengalaman yang bisa mereka dapatkan.
Munculnya Prestasi Pemain Lokal
Peluang tersebut semakin terlihat ketika pemain Indonesia mulai mencatatkan prestasi di kompetisi internasional.
Salah satu contoh paling menonjol adalah Novela Putria. Pada Mei 2026, Novela bersama Sandra Bellver memenangkan FIP Bronze Yogyakarta dan menjadi pemain Indonesia pertama yang meraih gelar di CUPRA FIP Tour. FIP juga mencatat Novela sebagai pemain Indonesia dengan peringkat tertinggi saat pencapaian tersebut terjadi.
Perjalanan Novela juga menunjukkan bahwa pemain Indonesia sudah mulai mengikuti turnamen di luar negeri. Dalam catatan FIP per September 2026, ia telah mengikuti berbagai turnamen FIP di Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Jepang, China, Belanda, hingga Spanyol.
Pengalaman seperti ini sangat penting karena level kompetisi internasional tidak selalu dapat direplikasi melalui pertandingan domestik.
Turnamen Internasional di Indonesia Membuka Akses Lebih Besar
Indonesia juga semakin sering menjadi tuan rumah kompetisi internasional.
Keuntungan menjadi tuan rumah bukan hanya dari sisi penyelenggaraan. Pemain lokal dapat memperoleh kesempatan untuk bertanding di depan publik sendiri sekaligus berhadapan dengan pemain dari berbagai negara.
Pada 2026, misalnya, Indonesia menjadi lokasi beberapa agenda FIP, termasuk FIP Bronze Yogyakarta, Jakarta, dan Banten. Novela Putria bahkan berhasil menjadi juara di Yogyakarta sebelum kembali menjadi salah satu unggulan pada FIP Bronze Jakarta.
Semakin sering turnamen internasional hadir di Indonesia, semakin kecil pula hambatan geografis bagi pemain lokal untuk mendapatkan pengalaman kompetitif.
Pembinaan Junior Bisa Menjadi Kunci
Jika Indonesia ingin memiliki pemain yang mampu bersaing di level dunia, pembinaan usia muda akan menjadi salah satu bagian paling penting.
Pada November 2026, Jakarta dijadwalkan menjadi tuan rumah FIP Junior Asia Padel Cup, kompetisi kontinental untuk kelompok U14, U16, dan U18. FIP menyebut turnamen tersebut sebagai bagian dari perkembangan generasi muda padel di Asia.
Adanya kompetisi seperti ini memberikan kesempatan kepada pemain junior Indonesia untuk mengukur kemampuan mereka terhadap pemain terbaik di kawasan.
Menariknya, perkembangan tersebut juga mulai terlihat dari ranking junior Asia. Pada ranking FIP Promises Asia per 21 September 2026, Kadek Nandini Oktavia Nandin dan Ratu Athena Putri tercatat berada di posisi teratas bersama pada kategori putri U18 dengan masing-masing 250 poin.
Ini bukan berarti mereka sudah menjadi pemain kelas dunia, tetapi menunjukkan adanya pemain muda Indonesia yang mulai muncul dalam sistem kompetitif internasional.
Apa yang Masih Dibutuhkan?
Potensi saja belum cukup untuk menghasilkan pemain kelas dunia.
Indonesia masih membutuhkan sistem pembinaan yang konsisten, terutama dalam beberapa aspek seperti:
- pelatih dengan pengalaman kompetisi internasional;
- program pembinaan junior yang berkelanjutan;
- lebih banyak pertandingan dengan pemain berlevel tinggi;
- akses terhadap sport science dan analisis pertandingan;
- dukungan finansial untuk mengikuti turnamen internasional;
- kompetisi domestik yang konsisten;
- serta jalur perkembangan yang jelas dari junior hingga profesional.
Hal ini penting karena pemain kelas dunia tidak terbentuk hanya dari latihan teknik. Mereka membutuhkan pengalaman menghadapi tekanan pertandingan, perjalanan kompetitif, strategi, kebugaran, dan konsistensi dalam jangka panjang.
Indonesia Memiliki Pasar yang Besar untuk Mengembangkan Ekosistem Padel
Secara global, padel juga sedang berkembang dengan sangat cepat. FIP menyebut bahwa pada 2026 olahraga ini telah mencapai sekitar 38 juta pemain, 85.000 lapangan, dan 27.000 klub di 178 negara dan wilayah.
Indonesia berada dalam lingkungan pertumbuhan tersebut dengan basis pemain yang besar dan pasar olahraga yang terus berkembang.
Jika pertumbuhan jumlah pemain dapat diikuti oleh peningkatan kualitas pembinaan, Indonesia memiliki peluang untuk mengubah jumlah pemain yang besar menjadi talent pool bagi atlet kompetitif.
Dari Banyak Pemain Menuju Pemain Berkelas Dunia
Indonesia mungkin belum memiliki banyak pemain yang berada di jajaran elite dunia seperti negara-negara dengan sejarah panjang dalam olahraga padel. Namun, fondasi untuk berkembang mulai terbentuk.
Jumlah pemain dan lapangan yang besar memberikan basis. Turnamen internasional memberikan pengalaman. Kompetisi junior memberikan jalur pembinaan. Sementara munculnya pemain seperti Novela Putria dan Ratu Athena Putri menunjukkan bahwa talenta lokal mulai mendapatkan ruang untuk berkembang.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan hanya apakah Indonesia bisa melahirkan pemain padel kelas dunia, tetapi bagaimana ekosistem yang sedang berkembang saat ini dapat diarahkan menjadi pembinaan atlet yang berkelanjutan.
Jika fasilitas, kompetisi, pembinaan junior, pelatih, dan kesempatan bermain internasional terus berkembang secara bersamaan, peluang Indonesia untuk menghasilkan pemain yang mampu bersaing di level dunia akan semakin terbuka.









