Dalam beberapa tahun terakhir, padel mulai menemukan tempatnya di tengah perkembangan olahraga raket di Indonesia. Lapangan baru bermunculan, komunitas semakin aktif, dan turnamen mulai hadir dengan frekuensi yang lebih tinggi.
Perkembangan tersebut bahkan sudah mulai terlihat di level internasional. International Padel Federation (FIP) mencatat bahwa sekitar 100 klub dan 350 lapangan padel telah dibuka di Indonesia dalam dua tahun hingga pertengahan 2025. Pada tahun yang sama, Indonesia juga menjadi tuan rumah dua turnamen CUPRA FIP Tour, yaitu FIP Bronze Indonesia I di Jakarta dan FIP Bronze Indonesia II di Bali.
Memasuki 2026, perkembangan kompetisi semakin terlihat. Indonesia mendapatkan kepercayaan untuk menjadi tuan rumah enam turnamen FIP, meningkat dari dua turnamen pada 2025. Menurut PBPI yang dikutip ANTARA, peningkatan tersebut berkaitan dengan evaluasi positif terhadap penyelenggaraan turnamen internasional sebelumnya.
Lalu, seperti apa masa depan padel Indonesia setelah pertumbuhan tersebut?
Dari Tren Menjadi Ekosistem Olahraga
Pertumbuhan klub merupakan langkah awal. Namun, masa depan padel Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan membangun ekosistem yang lebih lengkap.
Ekosistem tersebut mencakup pemain pemula, pemain kompetitif, pelatih, wasit, pengelola klub, penyelenggara turnamen, komunitas, hingga organisasi olahraga.
PBPI sendiri saat ini menempatkan pengembangan ekosistem padel dari level grassroots hingga panggung internasional sebagai bagian dari misinya. Situs resminya juga menyediakan jalur pendaftaran bagi pemain, klub, dan coach serta sistem turnamen dan ranking nasional.
Artinya, perkembangan padel tidak lagi hanya bergantung pada seberapa banyak lapangan yang tersedia. Infrastruktur manusia dan kompetisinya juga akan semakin penting.
Semakin Banyak Turnamen, Semakin Besar Peluang Pemain Berkembang
Salah satu perkembangan yang cukup menarik adalah bertambahnya kesempatan untuk bertanding.
Pada 2025, Jakarta menjadi lokasi FIP Bronze Indonesia I, yang merupakan turnamen CUPRA FIP Tour pertama di Indonesia. Hanya satu minggu kemudian, FIP Bronze Indonesia II digelar di Bali. Kedua turnamen tersebut memiliki kategori putra dan putri.
Bagi pemain Indonesia, kehadiran kompetisi seperti ini berarti mereka tidak selalu harus pergi ke luar negeri untuk mendapatkan pengalaman pertandingan internasional.
Turnamen lokal juga dapat menjadi tempat pemain menguji kemampuan, mendapatkan pengalaman menghadapi lawan dari negara lain, sekaligus mengumpulkan poin ranking FIP jika mengikuti kompetisi resmi.
Jakarta dan Bali Bukan Satu-Satunya Cerita
Perkembangan padel Indonesia juga berpotensi bergerak ke lebih banyak kota.
Jika sebelumnya perhatian terhadap padel banyak terpusat di kota-kota besar tertentu, bertambahnya klub dan komunitas membuka peluang munculnya pusat-pusat padel baru di berbagai wilayah.
Hal ini penting karena olahraga tidak akan berkembang secara merata apabila fasilitas dan kompetisi hanya terkonsentrasi di satu atau dua kota.
Turnamen nasional juga dapat berperan dalam menghubungkan komunitas dari berbagai daerah. Pemain dari satu kota dapat bertemu dengan pemain dari kota lain, membangun jaringan, dan menciptakan persaingan yang lebih luas.
Tantangan Berikutnya: Kualitas Pemain dan Pelatih
Pertumbuhan jumlah lapangan memang mudah terlihat. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan kualitas permainan ikut berkembang.
Semakin banyak orang yang bermain berarti semakin besar kebutuhan terhadap pelatih yang memiliki kompetensi, program latihan yang terstruktur, dan akses terhadap pertandingan yang sesuai dengan level pemain.
Hal ini menjadi penting karena padel memiliki perbedaan teknis dan taktis dibandingkan olahraga raket lainnya. Pemain yang ingin berkembang ke level kompetitif membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan memukul bola.
Pelatihan teknik, strategi permainan berpasangan, positioning, komunikasi, dan pemahaman terhadap penggunaan dinding menjadi bagian dari proses perkembangan pemain.
Generasi Muda Bisa Menjadi Kunci
Masa depan padel Indonesia juga dapat ditentukan oleh seberapa baik olahraga ini memperkenalkan diri kepada generasi muda.
Program junior dan kompetisi usia muda dapat menjadi salah satu cara membangun jalur pemain sejak dini. Di tingkat internasional, FIP sendiri memiliki kompetisi FIP Promises yang ditujukan bagi pemain muda.
Jika Indonesia mampu membangun sistem pembinaan yang konsisten, pertumbuhan padel tidak hanya menghasilkan lebih banyak pemain rekreasional, tetapi juga dapat menciptakan generasi pemain yang memiliki pengalaman kompetitif sejak usia muda.
Indonesia Mulai Mendapat Perhatian di Asia
Perkembangan Indonesia juga mulai terlihat dalam kompetisi regional.
Pada FIP Asia Padel Cup 2025, Indonesia berhasil meraih medali perunggu pada kompetisi putri setelah sebelumnya melalui fase kedua kompetisi. Dalam fase tersebut, Indonesia berada dalam grup bersama Kuwait dan Bahrain untuk kategori putra serta bersama Bahrain dan Kuwait untuk kategori putri.
Hasil tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan posisi keseluruhan padel Indonesia di Asia, tetapi menjadi salah satu contoh bahwa pemain Indonesia mulai terlibat dalam kompetisi antarnegara di kawasan.
Semakin sering pemain mendapatkan pengalaman seperti ini, semakin besar pula kesempatan bagi Indonesia untuk membangun pengalaman kompetitif internasional.
Klub Padel Akan Semakin Berperan
Klub kemungkinan tidak lagi hanya menjadi tempat menyewa lapangan.
Ke depannya, klub dapat berkembang menjadi pusat komunitas yang menyediakan coaching, social games, turnamen internal, program junior, hingga jalur bagi pemain yang ingin mengikuti kompetisi lebih serius.
Dengan semakin banyaknya klub, identitas masing-masing venue juga dapat menjadi faktor penting. Ada klub yang berfokus pada komunitas, ada yang mengembangkan pemain kompetitif, dan ada pula yang menggabungkan olahraga dengan konsep lifestyle.
Keragaman tersebut justru dapat membuat ekosistem padel Indonesia semakin dinamis.
Apakah Padel Indonesia Bisa Menjadi Lebih Kompetitif?
Pertumbuhan klub dan turnamen memberikan fondasi, tetapi perkembangan jangka panjang akan ditentukan oleh bagaimana seluruh elemen tersebut berkembang bersama.
Indonesia sudah menunjukkan peningkatan dalam jumlah fasilitas dan kesempatan menjadi tuan rumah kompetisi internasional. Dari sekitar 100 klub dan 350 lapangan yang disebut FIP pada 2025 hingga enam turnamen FIP yang dipercayakan kepada Indonesia pada 2026, terdapat indikasi bahwa ekosistemnya semakin mendapatkan ruang di tingkat internasional.
Namun, pertumbuhan jumlah fasilitas tidak otomatis menghasilkan pemain elite. Dibutuhkan pembinaan, kompetisi berjenjang, pelatih berkualitas, organisasi yang konsisten, serta komunitas yang terus berkembang.
Pada akhirnya, masa depan padel Indonesia bukan hanya tentang berapa banyak lapangan yang akan dibangun. Pertanyaan yang lebih menarik adalah berapa banyak pemain yang dapat berkembang, seberapa kuat kompetisinya, dan seberapa luas ekosistem yang berhasil dibangun.
Jika pertumbuhan tersebut dapat diikuti dengan pembinaan dan kompetisi yang berkelanjutan, padel Indonesia memiliki ruang untuk berkembang dari sekadar olahraga yang sedang populer menjadi bagian yang lebih mapan dari lanskap olahraga nasional.









